Tingkatkan Daya Saing Pangan Lokal (Enbal), Tim PPUPIK Polikant Produksi ECRL Yang Marketable

Polikant News, Memasuki tahun kedua, ECRL (Enbal Crispy Rumput Laut) yang diproduksi menggunakan bahan dasar singkong (enbal = bahasa daerah “Kei”) yang juga merupakan makanan pokok masyarakat di Kepulauan Kei terutama yang berdomisili di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual dimana ECRL ini adalah hasil pengembangan yang dilakukan oleh Tim Peneliti Polikant sejak tahun 2014 lalu yang memanfaatkan dana hibah dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti). Kegiatan ini kemudian dijadikan bisnis kampus lewat hibah Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) Kemristekdikti sejak tahun 2018 lalu. Kinipasarnya mulai menembus pasar regional. Pasalnya, beberapa pesanan juga datang dari luar daerah (luar Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual), demikian dijelaskan oleh ketua Tim PPUPIK Ismael Marasabessy, S.Pi., M.Si.

“Memasuki tahun kedua ini produksi ECRL mulai kita tingkatkan dengan variasi rasa original dan rasa abon ikan,karena permintaan lokal dan luar daerah kini semakin meningkat”, ungkap Ismael kepada Jurnalis Polikant saat ditemui di kantor PPUPIK Polikant pada rabu pagi (07/08/2019).

Tahun lalu produksinya masih lambat, hal ini karena tahun 2018 merupakan tahun awal produksi ECRL untuk dipasarkan. Sebenarnya ECRL sudah diperkenalkan sejak tahun 2016 yang oleh bapak Wakil Bupati Maluku Tenggara saat itu dijabat oleh Drs. Yunus Serang, M.Si. telah melaunching ECRL sebagai salah satu oleh-oleh khas Maluku Tenggara. Namun produksi untuk dipasarkan baru dimulai tahun 2018, imbuh Ismael.

Kepada Tim Jurnalis Polikant, Ismael juga menjelaskan bahwa “sebagai pangan lokal, enbal (singkong) memang sudah lama diolah oleh masyarakat lokal yang ada di Kepulaun Kei (Kab. Malra & Kota Tual) baik sebagai pangan pokok maupun sebagai pangan oleh-oleh khas Kei, tetapi bentuk, rasa, dan kemasannya belum marketable. Untuk itu dalam usaha mengembangkan pangan lokal agar berdaya saing dan punya nilai tambah (added value), lewat gerakan cinta produk lokal yang dilabelkan pada kemasan, Ismael dan kawan-kawan berharap produk ECRL ini bisa diterima oleh lidah semua orang di nusantara ini bahkan di luar negeri sesuai dengan motto produk ini “Produk Lokal Rasa Internasional”. Produk ini dilengkapi juga dengan label kemasan yang telah memenuhi undang undang pangan (halal, PIRT, expired dll) sehingga cukup optimis ECRL bisa mendapat tempat di hati masyarakat.

Enbal Crispy Rumput Laut diversifikasi dengan mengubahnya menjadi cemilan yang difortifikasi (ditambahkan) rumput laut supaya tinggi serat sehingga bisa bermanfaat bagi kesehatan. Semoga ini merupakan salah satu sumbangsih Polikant bagi masyarakat kepulauan Kei untuk peningkatan daya saing pangan lokal/produk lokal, demikian jelas Ismael sembari memberi isyarat bahwa tim PPUPIK yang diketuainya itu, telah membangun kemitraan dengan kelompok-kelompok usaha penjual enbal (lulun) sebagai bahan dasar produk Enbal Crispy Rumput Laut.

Posted

2019-08-09 09:25:35

News