“Covid-19: Lebih Terang Secara Ilmiah dan Bertanggungjawab”

Oleh:

Wellem Anselmus Teniwut

Penulis merupakan Dosen dan Peneliti pada Program Studi Agribisnis, Politeknik Perikanan Negeri Tual. Bidang penelitian penulis adalah agroindustri perikanan dengan pemanfaatan data mining, spasial, logika fuzzy, MCDM/MCDA dalam mendukung pengambilan keputusan bidang perikanan. Penulis telah menerbitkan lebih dari 20 jurnal ilmiah bereputasi dunia, memegang lebih dari 5 Hak Kekayaan Intelektual serta menerbitkan buku dalam bidang agroindustri perikanan pada penerbit World Scientific di Singapura. Penulis juga menjadi reviewer pada jurnal-jurnal bereputasi baik tingkatan Q1 hingga Q3, juga menjadi guest editor

pada lebih dari 5 konferensi internaisonal hingga saat ini. Email: wateniwut@polikant.ac.id

Konsep Publikasi Artikel Ilmiah

Artikel yang diterbitkan dalam sebuah jurnal ilmiah yang adalah hasil penelitian dari para peneliti merupakan buah kerja yang sejatinya sangat bertanggungjawab. Ada ungakapan di dunia barat “He/She knows what He/She is doing” merupakan kalimat yang mencerminkan idealnya hasil kerja dari peneliti yang berhasil menerbitkan hasil kerjanya pada sebuah jurnal pada bidang kerja dari peneliti yang sudah melewati penilaian sejawat yang secara obyektif menilai hasil kerja tersebut sebelum diterbitkan. Untuk dapat menerbitkan sebuah artikel ilmiah pada sebuah jurnal maka peneliti harus memiliki kompetensi, selanjutnya dengan kompetensi yang dilimiliki peneliti akan mampu melihat permasalahan yang menurut kemampuan dan kapabilitasnya perlu untuk dilakukan telaah yang sistematis dengan kaedah-keadah yang terstruktur baik berupa novel, repetisi maupun modifikasi metode untuk selanjutnya mendapatkan metode, cara, produk, model hingga solusi penanganan permasalahan yang ingin diselesaikan. Tingkatan penelitian yang dilakukan tidak hanya dan terbatas diukur hanya dengan komplektisitas metode yang digunakan ataupun kecanggihan alat analisis bahkan jumlah dana hibah yang didapatkan, tetapi akan diukur berdasarkan aplikasi dari hasil penelitian yang diperoleh. Meskipn demikian, penilaian tingkat kegunaan dan pentingnya output penelitian tidak dapat secara cepat, singkat dan subyektif diukur, tetapi ditentukan oleh momentum, waktu dan situasi-kondisi yang terjadi saat ini dan pada masa depan. Sebagai contoh, saat ini banyak permintaan penggunaan APD salah satunya adalah penggunaan masker oleh masyarakat, hingga sebelum adanya pandemi Covid-19 ini belum banyak penelitian yang mengukur perbedaan kinerja dari jenis bahan masker, antara kain dan masker medis, hal ini membuat penelitian-penelitian sebelumnya terkait perbedaan jenis-jenis masker ini menjadi sangat penting dan berguna bagi warga dunia saat ini dibandingkan masa sebelum adanya pandemi virus ini.

Penerbitan artikel pada jurnal ilmiah pun tidak dapat digunakan dan dipercaya secara utuh sebagai sebuah kebenaran, banyak faktor yang harus dan sangat perlu diperhatikan sebelum menggunakan hasil penelitian tersebut untuk dimanfaatkan secara langsung. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kualitas jurnal ilmiah. Di Indonesia, melalui Kementerian Riset Teknologi dan Badan Riset Inovasi Nasional (KemristekBRIN) telah menetapkan tingkatan jurnal ilmiah dalam Lembaga yang dinamakan SINTA. Di sana, Pemerintah RI melalui Lembaga terkait telah membagi tingkatan jurnal ilmiah dari kampus, asosiasi dan Lembaga penelitian dalam enam tingkatan atau dikenal dengan SINTA 1 hingga SINTA 6, dimana semakin kecil semakin berkualitas, tentu saja dengan berbagai kriteria yang telah ditetapkan. Selanutnya secara global terdapat berbagai Lembaga pengindex yang menurut kriteria pemerintah sekali lagi melalui Lembaga tekait disebut sebagai “Lembaga pengindex bereputasi” yaitu Scopus dan Web of Science (WOS). Seperti halnya SINTA, baik Scopus dan WOS juga memiliki tingkatan dimana untuk Scopus ada peringkat jurnal yang diterindex pada Lembaga mereka dengan penggunaan istilah “quartile” dimana terdapat empat kuartil dimana semakin besar tingkatan kuartil maka rendah tingkatannya, selanjutnya untuk WOS juga memiliki indikator yang membedakan kualitas jurnal-jurnal dalam pengindex mereka yang disebut dengan “Impact Factor (IF)”, yang tentu saja semakin tinggi IF sebuah jurnal yang terindex di WOS maka semakin berkualitas jurnal itu. Faktor kedua adalah penulis dari artikel ilmiah yang diterbitkan. Lembaga yang menjadi afiliasi penulis wajib untuk diperhatikan, sebagai seleksi awal, hal ini penting memudahkan memilah ribuan artikel ilmiah yang di peroleh dalam mesin pencari jurnal kedalam artikel-artikel yang berkualitas. Secara sederhana afiliasi penting untuk diperhatikan dikarenakan terkait dengan kualitas laboratorium yang dimiliki dan riwayat kinerja Lembaga dalam bidang penelitian tertentu. Setelah afiliasi penulis, maka hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah riwayat penelitian yang tercermin dari daftar publikasi ilmiah yang dimiliki oleh penulis, semakin banyak dan konsisten maka tingkat kredibilitas dari penulis yang sekaligus peneliti dapat lebih dipercaya dan baik. Faktor ketiga yang perlu diperhatikan adalah isi dari artikel ilmiah. Proses seleksi singkat kualitas sebuah artikel adalah struktur artikel mulai dari pendahuluan hingga daftar pustaka, secara sepintas dapat dinilai kualitas sebuah artikel. Selanjutnya, yang perlu diperhatikan terutama adalah metode penelitian, pada bagian ini terdapat informasi mengenai sumber data, cara mendapatkan data serta alat analisis yang digunakan dalam penelitian, ketika setelah dibaca dan dapat dipadami secara umum tahapan penelitian yang dilakukan maka secara umum hasil kajian tersebut dapat dimasukan dalam kategori baik dan berkualitas sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi.

Peran Artikel Ilmiah Pada Asusan Informasi Sensitif Masa Pademi Covid-19

Saat ini, dimana masa pandemi yang masih sangat tinggi melanda hampir setiap negara di dunia ini, dengan taruhan nyawa maka setiap informasi yang dapat membantu akan menjadi sesuatu yang sangat berarti dan sangat berguna bagi setiap pihak baik pemerinhtah, swasta, hingga masyakarat. Dengan banyaknya informasi yang beredar saat ini membuat sangat penting mendapatkan informasi yang valid dan terpercaya. Maka dengan demikian, jurnal ilmiah menjadi pilihan yang sangat kredibel dan terpercaya sebagai asupan informasi terkait kondisi saat ini. Maka berdasarkan kriteria yang telah disebutkan sebelumnya maka beberapa jurnal ilmiah yang dapat menjadi rujukan antara lain: The Lancet, BMJ, BMC, Nature, Science, New England Journal of Medicine, JAMA, Annals of Internal Medicine dan juga medrxiv yang mempublikasikan preprint hasil penelitian dari peneliti-peneliti yang dapat diakses secara gratis adalah beberapa contoh sumber jurnal yang dapat dijadikan sumber informasi terjamin baik untuk memverifikasi kapan adanya vaksin covid-19, sebagai contoh; apakah musim panas berpengaruh pada hilangnya covid-19? Apa pengaruh sinar mataharin pada covid-19? Vitamin, sumplemen yang perlu untuk peningkatan imunitas? Pola penyebaran covid-19? Apa yang harus dilakukan secara pribadi, kelompok dan wilayah untuk menanggulagi covid-19? Dampak covid-19 pada ekonomi? Hingga prediksi per hari dengam model prediksi pada penyebaran covid-19, tingkat kematian akibat covid-19, tingkat kebutuhan APD, kemampuan tiap negara terkait fasilitas kesahatan dan tenaga kesahatan dalam menangani pandemi covid-19?.

Bidang peminatan penelitian Saya berbeda dengan permasalahan yang sedang dihadapi dunia saat ini, tetapi dengan pola pikir peneliti yang ada dalam diri Saya, maka untuk mendapatkan asupan informasi yang valid dan melakukan verifikasi informasi simpang siur yang beredar di masyarakat baik secara daring maupun luring, langkah-langkah Saya lakukan adalah melakukan pencarian informasi ilmiah pada mesin mencari umum seperti google scholar yang secara gratis dapat diakses, dan juga melalui mesin pencari Scopus yang tidak gratis. Sebagai contoh, informasi mengenai kriteria OTG yang baru saja diumumkan oleh Pemerintah melalui gugus tugas, telah dipublikasikan secara ilmiah ini sejak akhir Februari oleh tim peneliti pada Tiongkok CDC[1], kemudian pengaruh musim panas dan cuaca pada penyebaran covid-19, dimana banyak penelitian yang tidak menyimpulkan bahawa cuaca dapat mengurangi penyebaran covid-19[2], dan hal ini tentu saja terbantah pernyataan dari para pengambil kebijakan di negara ini secara valid tanpa harus masuk dalam perdebatan politik pendukung dan anti pemerintah. Contoh lain adalah rekomendasi penggunaamn obat malaria yang bahkan secara terburu-buru diadopsi oleh Presiden RI[3] dengan melakukan pemesanan obat malaria untuk penanganan covid-19, hal ini sangat disayangkan karena pada waktu yang berdakatan sebelum pengumuman presiden ini, terdapat hasil publikasi ilmiah yang membantah hasil pengujian prematur penggunaan obat malaria untuk covid-19[4] bahkan terdapat laporan ada warga dunia yang meninggal karena keracunan akibat mengkonumsi obat malaria untuk mencegah covid-19[5].

Dari berbagai artikel-artkel ilmiah yang diterbitkan pada jurnal-jurnal kredibel oleh peneliti-peneliti yang bertanggungjawab juga memberikan informasi penting terkait covid-19. Pentingnya social distancing, penggunaan makser, menjaga jarak hingga pelajaran dari negara-negara yang sedang mengalami krisis dalam penanganan covid-19 seperti Italia dan negara-negara eropa, Tiongkok dan Korea Selatan hingga Singapura dan Jepang. Dari informasi yang kredibel dan ilmiah diperoleh informasi bahwa pentingnya tes dalam jumlah besar untuk mendeteksi kluster-kluster yang masuk zona merah untuk kemudian melakukan contact tracing selanjutnya adanya isolasi dan penanganan secara cepat agar tidak menyebar serta diperlukannya penanganan yang tegas dari pemerintah dan disiplin kerjasama dari setiap warga negara. Hal ini dikarenakan bahkan negara dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi seperti Jepang dan Singapura yang sebelumnya dipuji sebagai dua negara yang mampu mengatasi pandemi di negara mereka, saat ini telah melalukan lockdown/karantina wilayah akibat munculnya kasus covid-19. Hal ini tentu saja sangat dimengerti dikarenakan informasi mengenai penyebaran covid-19 telah diketahui oleh banyak publikasi pada awal masa pandemic covid-19 bahwa tren peningkatan pasien positif virus ini bersifat eksponensial, hal ini dikarenakan berdaarkan hasil penelitian ilmiah 1 orang dapat menularkan ke banyak orang hanya dengan berbicara atau batuk[6].

Dampak ekonomi akibat pandemi ini juga tidak luput mendapatkan perhatian dari peneliti-peneliti dunia, dimana secara umum mereka menyimpulkan bahwa dalam pandemi ini, pasti terjadi krisis ekonomi akibat banyak bisnis yang tutup sementara sehingga terjadi PHK dan menurunnya pendapatan masyarakat khususnya di sektor UKMK. Selanjutnya, pemerintah juga akan melalukan peningkatan bantuan jaringan pengaman sosial bagi masyarakat selain pengadaan APD dalam jumlah besar, insentif bagi ekonomi yang akan berdampak pada kebutuhan dana segar yang besar. Dengan demikian maka berdarkan rekomendasi analisis peneliti-peneliti dan pakar dibidangnya hal yang perlu diperhatikan dalam pandemi ini terkait ekonomi adalah kesembuhan masyarakat yang menjadi pendorong pemulihan ekonomi, dan bukan sebaliknya. Untuk itu maka perlu ketegasan, ketangkasan serta keterbukaan informasi pemerintah pusat dalam melakukan penanganan kondisi dan dampak pandemi ini.

Mengingat tidak semua masyarakat awam dapat menikmati dan mengetahui cara mengakses dan membaca artikel ilmiah yang cenderung berbahasa inggris, maka yang dapat dilakukan sebagai usaha mencari informasi yang bertanggungjawab dan kredibel adalah merujuk pada portal berita yang besar dan kredibel seperti BBC Indonesia, CNN, Okezone, Kompas, Tempo, Detik dan lainnya yang sudah dikenal dan terkenal baik dan valid, selain informasi resmi dari Pemerintah. Sebagai contoh, adanya kemungkinan pada bulan September ini sudah ada vaksin covid-19[7] meskipun informasi ini berasal dari situs berita terkenal dan valid tetapi karena bukan merupakan hasil kajian resmi dan dipastikan secara ilmiah maka belum dapat dipastikan secara pasti kebenerannya, apapun itu berita ini menjadi harapan bagi selesainya pandemi ini. Dengan demikian kita sebagai masyarakat juga wajib lebih kritis dalam membaca berita dan informasi yang datang sehingga tidak menimbulkan adanya simpang siur informasi yang juga akan mempengaruhi  perilaku dan kesehatan kita serta keluarga terdekat masing-masing.



[1] http://weekly.chinacdc.cn/fileCCDCW/journal/article/ccdcw/2020/8/PDF/COVID-19.pdf

[2] https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.04.03.20052787v1

[3] https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52000873

[4] https://www.thelancet.com/journals/langlo/article/PIIS2214-109X(20)30114-5/fulltext

[5] https://time.com/5808688/chloroquine-phosphate-coronavirus-death/

[6] https://bmcinfectdis.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12879-019-3707-y

[7] https://www.thetimes.co.uk/article/many-of-us-have-been-saying-for-years-that-we-need-more-vaccines-snczprdrn


Posted

2020-04-18 10:27:13

News